MAKALAH
KEHIDUPAN SOSIAL SUKU DI INDONESIA :
SUKU KUBU

Disusun Oleh
:
QAIS CAHYO WIBOWO
55415473
1IA03
FAKULTAS TEKNOLOGI INDUSTRI
JURUSAN TEKNIK INFORMATIKA
UNIVERSITAS GUNADARMA
2015
DAFTAR
ISI
DAFTAR
ISI........................................................................................................ ii
BAB
I PENDAHULUAN................................................................................... 1
Latar
Belakang....................................................................................................... 1
BAB
II PEMBAHASAN..................................................................................... 3
A. Asal usul suku
kubu..........................................................................................3
B.
Karakteristik
dan kultur suku
kubu..................................................................3
C.
Sistem
kekerabatan...........................................................................................4
D.
Organisasi
Sosial dan Kelompok Masyarakat pada Suku Kubu......................4
E.
Kehidupan Masyarakat Suku Kubu.................................................................5
F.
Peralatan,
Komunikasi & Seni Suku
Kubu.....................................................5
G.
Wilayah
Persebaran Suku
Kubu......................................................................5
BAB
III PENUTUP............................................................................................. 7
Kesimpulan........................................................................................................... 7
DAFTAR
PUSTAKA........................................................................................... 8
ii
BAB I
Latar Belakang
Latar Belakang
Sejarah Suku Anak Dalam Kubu
Sejarah Suku Anak Dalam atau SAD masih penuh misteri, bahkan hingga kini
tak ada yang bisa memastikan asal usul mereka. Hanya beberapa teori, dan cerita
dari mulut ke mulut para keturunan yang bisa menguak sedikit sejarah mereka.
Sejarah lisan Orang Rimba selalu diturunkan para leluhur. Tengganai Ngembar
(80), pemangku adat sekaligus warga tertua SAD yang tinggal di Taman Nasional
Bukit Duabelas (TNBD) Jambi, mendapat dua versi cerita mengenai sejarah Orang
Rimba dari para terdahulu. Ia memperkirakan dua versi ini punya keterkaitan.
Yang pertama, leluhur mereka
adalah orang Maalau Sesat, yang meninggalkan keluarga dan lari ke hutan rimba
di sekitar Air Hitam, TNBD. Mereka kemudian dinamakan Moyang Segayo.
Sedangkan versi kedua, penghuni rimba
adalah masyarakat Pagaruyung, Sumatera Barat, yang bermigrasi mencari
sumber-sumber penghidupan yang lebih baik. Diperkirakan karena kondisi keamanan
tidak kondusif atau pasokan pangan tidak memadai di Pagaruyung, mereka pun
menetap di hutan itu.
Versi kedua ini lebih banyak dikuatkan dari segi bahasa, karena terdapat
sejumlah kesamaan antara bahasa rimba dan Minang. Orang Rimba juga menganut
sistem matrilineal, sama dengan budaya Minang. Dan yang lebih mengejutkan,
Orang Rimba mengenal Pucuk Undang Nang Delapan, terdiri atas hukum empat ke
atas dan empat ke bawah, yang juga dikenal di ranah Minang.
Di Kabupaten Tanah Datar sebagai pusat Kerajaan Pagaruyung sendiri,
terdapat sebuah daerah, yaitu Kubu Kandang. Merekalah yang diperkirakan
bermigrasi ke beberapa wilayah di Jambi bagian barat.
Sedangkan perilaku Orang Rimba yang kubu atau terbelakang, menurut Ngembar,
disebabkan beratus tahun moyang mereka hidup di tengah hutan, tidak mengenal
peradaban. Kehidupan mereka sangat dekat dan bergantung pada alam. “Kami
beranak pinak dalam rimba, makan sirih, berburu, dan meramu obat alam, sehingga
lupa dengan peradaban orang desa. Kami terbentuk jadi Orang Rimba,” tuturnya.
Mereka hidup seminomaden, karena kebiasaannya berpindah dari satu tempat ke
tempat lainnya. Tujuannya, bisa jadi “melangun” atau pindah ketika ada warga
meninggal, menghindari musuh, dan membuka ladang baru. Orang Rimba tinggal di
pondok-pondok, yang disebut sesudungon, bangunan kayu hutan, berdinding kulit
kayu, dan beratap daun serdang benal.
Hasil survei Kelompok Konservasi Indonesia (KKI) Warsi tahun 2004
menyatakan, jumlah keseluruhan Orang Rimba di TNBD ada 1.542 jiwa. Mereka
menempati hutan yang kemudian dinyatakan kawasan TNBD, terletak di perbatasan
empat kabupaten, yaitu Batanghari, Tebo, Merangin, dan Sarolangun. Hingga tahun
2006, paling sedikit terdapat 59 kelompok kecil Orang Rimba. Beberapa ada yang
mulai hidup dan menyatukan diri dengan kehidupan desa sekitarnya. Namun
sebagian besar masih tinggal di hutan dan menerapkan hukum adat sebagaimana
nenek moyang dahulu.
1
Selain di TNBD, kelompok- kelompok Orang Rimba juga tersebar di tiga
wilayah lain. Populasi terbesar terdapat di Bayung Lencir, Sumatera Selatan,
sekitar 8.000 orang. Mereka hidup pada sepanjang aliran anak-anak sungai
keempat (lebih kecil dari sungai tersier), seperti anak Sungai Bayung Lencir,
Sungai Lilin, dan Sungai Bahar. Ada juga yang hidup di Kabupaten Sarolangun,
sepanjang anak Sungai Limun, Batang Asai, Merangin, Tabir, Pelepak, dan Kembang
Bungo, jumlahnya sekitar 1.200 orang.
Kelompok lainnya menempati Taman Nasional Bukit
Tigapuluh, sekitar 500 orang.
Karena tidak dekat dengan peradaban dan hukum modern, Orang Rimba memiliki sendiri hukum rimba. Mereka menyebutnya seloka adat.
Karena tidak dekat dengan peradaban dan hukum modern, Orang Rimba memiliki sendiri hukum rimba. Mereka menyebutnya seloka adat.
Ada satu seloka yang bisa menjelaskan tentang Orang
Rimba:
Bertubuh onggok
berpisang cangko
beratap tikai
berdinding baner
melemak buah betatal
minum air dari bonggol kayu.
Bertubuh onggok
berpisang cangko
beratap tikai
berdinding baner
melemak buah betatal
minum air dari bonggol kayu.
Ada lagi:
berkambing kijang
berkerbau tenu
bersapi ruso
Mereka sehari-harinya tanpa baju, kecuali cawat penutup kemaluan. Rumahnya hanyalah beratap rumbia dan dinding dari kayu.
berkambing kijang
berkerbau tenu
bersapi ruso
Mereka sehari-harinya tanpa baju, kecuali cawat penutup kemaluan. Rumahnya hanyalah beratap rumbia dan dinding dari kayu.
Cara hidup dengan makan buah-buahan di hutan, berburu, dan mengonsumsi air
dari sungai yang diambil dengan bonggol kayu. Makanan mereka bukan hewan
ternak, tetapi kijang, ayam hutan, dan rusa.
Identitas Orang Rimba yang tertuang lewat seloka, membedakannya dari orang
terang – sebutan untuk masyarakat di desa.
Mereka membuat seloka tentang orang terang:
berpinang gayur
berumah tanggo
berdusun beralaman
beternak angso
berpinang gayur
berumah tanggo
berdusun beralaman
beternak angso
Seloka yang muncul lewat mimpi juga memberi panduan mengenai hidup sosial
di rimba. Aturan-aturan Orang Rimba memang tidak jauh dari Pucuk Undang Nang
Delapan, yang dibawa dari minang. Aturan rimba sendiri melarang adanya
pembunuhan, pencurian, dan pemerkosaan. Inilah larangan terberat, yang jika
dilanggar akan dikenai hukuman 500 lembar kain. Jumlah kain sebanyak itu
dinilai sangat berat, dan sangat sulit disanggupi, karenanya Orang Rimba
berusaha untuk mematuhi.
Kisah yang dituturkan Ngembar tak berbeda jauh dengan warga Suku Anak Dalam
(SAD) di kawasan lain TNBD. Tumenggung Tarib, pimpinan di salah satu rombongan
SAD, mengemukakan bahwa mereka adalah keturunan Kerajaan Pagaruyung
(dharmacraya) yang merantau ke Jambi. Untuk sejarah lisan ini, menurut Tarib,
diturunkan sampai enam generasi ke bawah.
2
BAB II
ISI
ISI
A. Asal Usul Suku Anak Dalam Kubu
Penyebutan Orang Rimba pertama kali dengan berakhiran huruf ‘o’ pada
disertasi tersebut dipertentangkan oleh beberapa antropolog meski tidak ada
perbedaan makna, tetapi akhiran ‘o’ pada sebutan Orang Rimbo merupakan dialek
Melayu Jambi dan Minang.
Tentang asal usul Suku Anak Dalam (Muchlas, 1975) menyebutkan adanya
berbagai hikayat dari penuturan lisan yang dapat ditelusuri seperti Cerita Buah
Gelumpang.
Dari hakikat tersebut Muchlas menarik kesimpulan bahwa Anak Dalam berasal
dari tiga turunan yaitu:
1.Keturunan dari Sumatera Selatan, umumnya tinggal di
wilayah Kabupaten Batanghari.
2.Keturunan dari Minangkabau, umumnya di Kabupaten Bungo Tebo sebagian Mersam (Batanghari).
3.Keturunan dari Jambi Asli yaitu Kubu Air Hitam Kabupaten Sarolangun Bangko (Muchlas, 1975)
2.Keturunan dari Minangkabau, umumnya di Kabupaten Bungo Tebo sebagian Mersam (Batanghari).
3.Keturunan dari Jambi Asli yaitu Kubu Air Hitam Kabupaten Sarolangun Bangko (Muchlas, 1975)
Menurut Van Dongen (1906) dalam Tempo (2002), menyebutkan bahwa orang rimba
sebagai orang primitif yang taraf kemampuannya masih sangat rendah dan tak
beragama. mereka melakukan transaksi dengan bersembunyi di dalam hutan dan
melakukan barter, mereka meletakkannya di pinggir hutan, kemudian orang melayu
akan mengambil dan menukarnya.
Senada dengan Bernard Hagen (1908) dalam Tempo (2002)
(die orang kubu auf Sumatra) menyatakan orang rimba sebagai orang pra melayu
yang merupakan penduduk asli Sumatera. Demikian pula Paul Bescrta mengatakan
bahwa orang rimba adalah proto melayu (melayu tua) yang ada di semenanjung
Melayu yang terdesak oleh kedatangan melayu muda.
B. Karakteristik dan Kultur Suku Kubu
B. Karakteristik dan Kultur Suku Kubu
Ciri-ciri fisik dan non fisik
Suku anak dalam termasuk golongan ras mongoloid yang
termasuk dalam migrasi pertama dari manusia proto melayu. kulit sawo matang,
rambut agak keriting, telapak kaki tebal, laki-laki dan perempuan yang dewasa
banyak makan sirih.
Ciri fisik lain yang menonjol adalah penampilan gigi mereka yang tidak
terawat dan berwarna kecoklatan. Hal ini terkait dengan kebiasaan mereka yang
dari kecil nyaris tidak berhenti merokok serta rambut yang terlihat kusut
karena jarang disisir dan hanya dibasahi saja.
Budaya Melangun
Pada masa sekarang apabila terjadi kematian di suatu
daerah, juga tidak seluruh anggota Suku Anak Dalam tersebut yang pergi
melangun. Hanya angota keluarga-keluarga mendiang saja yang melakukannya.
3
Seloko dan Mantera
Kehidupan Suku Anak Dalam sangat dipengaruhi oleh
aturan-aturan hukum yang sudah diterapkan dalam bentuk seloko-seloko yang
secara tegas dijadikan pedoman hukum oleh para pemimpin Suku, khususnya Tumenggung
dalam membuat suatu keputusan. Seloko juga menjadi pedoman dalam bertutur kata
dan bertingkah laku serta dalam kehidupan bermasyarakat Suku Anak Dalam. Bentuk
seloko itu antara lain:
1.Bak emas dengan suasa .
2.Mengaji di atas surat
3.Banyak daun tempat berteduh
4.Titian galling tenggung negeri (Tidak ke sini juga tidak kesana/labil)
2.Mengaji di atas surat
3.Banyak daun tempat berteduh
4.Titian galling tenggung negeri (Tidak ke sini juga tidak kesana/labil)
Besale
kata besale dapat diartikan secara harafiah duduk
bersama untuk bersama-sama memohon kepada Yang Kuasa agar diberikan kesehatan,
ketentraman dan dihindarkan dari mara bahaya.
Kepercayaan
Komunitas adat terpencil Suku Anak Dalam pada umumnya
mempunyai kepercayaan terhadap dewa, istilah ethnic mereka yakni dewo dewo.
Mereka mempercayai adanya dewa yang mendatangkan kebajikan jika mereka
menjalankan aturannya.
C. Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan orang Rimba adalah matrilineal yang
sama dengan system kekerabatan budaya Minangkabau.Orang Rimba tidak
diperbolehkan memanggil istri atau suami dengan namanya, demikian pula antara
adik dengan kakak dan antara anak dengan orang tua. Mereka juga tidak menyebut
nama orang yang sudah meninggal dunia. Sebenarnya menyebut nama seseorang
dianggap tabu oleh orang Rimba.
Kebudayaan orang Rimba juga mengenal sistem pelapisan sosial. Temenggung
adalah pemimpin utama dalam struktur kelompok.
D. Organisasi Sosial dan Kelompok
Masyarakat pada Suku Kubu
Masyarakat Suku Anak Dalam hidup secara berkelompok, Mereka bebas untuk
tinggal bersama dengan kelompok lain. Namun mereka tidak dengan mudah
berganti-ganti kelompok/tumenggungnya karena terdapat hukum adat yang
mengaturnya
Susunan organisasi sosial pada masyarakat Suku Anak Dalam terdiri dari:
1.Tumenggung, Kepala adat/Kepala masyarakat
2.Wakil Tumenggung, Pengganti Tumenggung jika berhalangan
3.Menti, Menyidang orang secara adat/hakim
Kepemimpinan Anak Dalam tidak bersifat mutlak, mereka sekarang dipilih berdasarkan pengajuan Tumenggung disetujui seluruh anggota. Menurut Temenggung Tarib, jumlah kelompok yang diwakili oleh Temenggung naik dari 3 kelompok pada tahun 1980an.
2.Wakil Tumenggung, Pengganti Tumenggung jika berhalangan
3.Menti, Menyidang orang secara adat/hakim
Kepemimpinan Anak Dalam tidak bersifat mutlak, mereka sekarang dipilih berdasarkan pengajuan Tumenggung disetujui seluruh anggota. Menurut Temenggung Tarib, jumlah kelompok yang diwakili oleh Temenggung naik dari 3 kelompok pada tahun 1980an.
4
E. Kehidupan Masyarakat Suku Kubu
Makanan
Mereka sudah banyak yang menggunakan beras sebagai
makanan pokok sehari-hari. Sebenarnya makanan pokok mereka waktu dahulu adalah
segala jenis umbi-umbian yang tumbuh di hutan, seperti keladi, ubi kayu, ubi
jalar, umbi silung dan binatang buruan seperti babi hutan, rusa, kancil dan
lain-lain.
Pakaian
Meraka pada umumnya tidak berpakaian, namun mereka
menggunakan cawat kain untuk menutupi kemaluannya. Dahulu aslinya mereka
menggunakan cawat dari kulit kayu terap atau serdang, namun karena cawat dari
kulit kayu sering menimbulkan rasa sakit akibat kutu kayu yang masuk ke dalam
kulit, sehingga mereka meninggalkannya dan beralih dengan kain yang mereka beli
di pasar melalui masyarakat umum.
Tingkat kemampuan intelektual suku anak dalam dapat
disebut masih rendah dan temperamen mereka pada umumnya keras dan pemalu.
Walaupun masih terbatas, tetapi sudah terjadi interaksi sosial dengan
masyarakat luas sehingga keterbukaan terhadap nilai nilai budaya luar semakin
tampak.
F. Peralatan, Komunikasi & Seni Suku Kubu
F. Peralatan, Komunikasi & Seni Suku Kubu
sebagai orang yang memiliki harta benda minimal, termasuk barang seni dan
alat teknologi .Kelihatannya menurut kosmologi orang Rimba, mereka tidak
terdorong atau tergoda mempunyai harta benda. Ada kerajinan yang dibuat dari
bambu, daun, rotan, rumput, kayu dan kulit. Seperti tikar untuk membungkus
barang atau sebagai tempat tidur, dan wadah untuk tempat menyimpan, untuk
membawa barang dan untuk melengkapi sistem adat, atau sebagai alat
tukar-menukar dalam upacara perkawinan.
Pada umumnya, saat mereka pergi ke pasar mingguan atau
keluar hutan untuk pergi ke dusun, laki-laki sering memakai celana dan
perempuan menutupi badannya agar mereka
tidak merasa malu, demi menghormati budaya dusun serta agar diterima dengan baik.
tidak merasa malu, demi menghormati budaya dusun serta agar diterima dengan baik.
G. Wilayah Persebaran Suku Kubu
Daerah yang didiami oleh Suku Anak Dalam ada di
kawasan Taman Nasional Bukit XII antara lain terdapat di daerah Sungai
Sorenggom, Sungai Terap dan Sungai Kejasung Besar/Kecil, Sungai Makekal dan
Sungai Sukalado. Nama-nama daerah tempat mereka bermukim mengacu pada anak-anak
sungai yang ada di dekat permukiman mereka.
Cagar Biosfer, adalah karena kawasan ini memenuhi ciri-ciri atau kriteria yang sifatnya kualitatif yang mengacu pada kriteria umum Man and Biosphere Reserve Program, UNESCO seperti berikut:
Cagar Biosfer, adalah karena kawasan ini memenuhi ciri-ciri atau kriteria yang sifatnya kualitatif yang mengacu pada kriteria umum Man and Biosphere Reserve Program, UNESCO seperti berikut:
1.Merupakan kawasan yang mempunyai keperwakilan
ekosistem yang masih alami dan kawasan yang sudah mengalami degradasi,
modifikasi dan atau binaan.
2.Mempunyai komunitas alam yang unik, langka dan indah.
3.Merupakan landscape atau bentang alam yang cukup luas yang mencerminkan interaksi antara komunitas alami dengan manusia beserta kegiatannya secara harmonis.
2.Mempunyai komunitas alam yang unik, langka dan indah.
3.Merupakan landscape atau bentang alam yang cukup luas yang mencerminkan interaksi antara komunitas alami dengan manusia beserta kegiatannya secara harmonis.
5
4.Merupakan tempat bagi penyelenggaraan pemantauan
perubahan perubahan ekologi melalui kegiatan penelitian dan pendidikan (Dirjen
PHPA, 1993).
kawasan Cagar Biosfer Bukit Duabelas terletak diantara
lima kabupaten, yaitu kabupaten sarolangun, merangin, bungo, tebo dan batang
hari. Kawasan yang di diami orang rimba ini secara geografis adalah kawasan
yang dibatasi oleh batang tabir di sebelah barat,
batang tembesi.di kawasan Cagar Biosfer
Bukit Duabelas terdapat tiga kelompok Orang Rimba yaitu kelompok Air Hitam di
bagian selatan kawasan. Orang Rimba hidup dalam kelompok kelompok kecil yang
selalu menempati wilayah bantaran sungai baik di badan sungai besar ataupun di
anak sungai dari hilir sampai ke hulu.
Walaupun mereka jarang menggunakan sungai sebagai tempat membersihkan
dirinya, tetapi keberadaan sungai sebagai sarana kehidupan mereka terutama
untuk kebutuhan air minum, sehingga pemukiman mereka selalu diarahkan tidak
jauh dari anak anak sungai.
Wilayah Taman Nasional Bukit XII memiliki beberapa tempat tinggal lain di
kaki bukitnya, dengan Bukit Dua Belas sebagai titik sentralnya. Dinamakan Bukit
Dua Belas karena menurut Suku Anak Dalam, bukit ini memliki 12 undakan untuk
sampai dipuncaknya. Di tempat inilah menurut mereka banyak terdapat roh nenek
moyang mereka, dewa-dewa dan hantu-hantu yang bisa memberikan kekuatan.
6
BAB III
PENUTUP
PENUTUP
Kesimpulan
Suku anak dalam jambi (Suku
Kubu) adalah orang malau sesat yang meninggalkan keluarganya dan lari kehutan
rimba sekitar Taman Nasional Bukit 12 itu di namakan mayang segayo.
Penghuni rimba itu
masyarakat pagaruyung (Sumatra barat) yang berimigrasi mencari sumber kehidupan
yang lebih baik.orang rimba menganut sistim matrinial, sama dengan
budaya minag kabau.
7
Daftar
Pustaka
·
Depsos RI. 1998, Masyarakat Terasing Suku Anak Dalam dan Dusun Solea Dan
Melinani, Direktorat Bina Masyarakat Terasing, Jakarta.
·
Dian Prihatini, 2007. Makalah ”kebudayaan Suku Anak Dalam”. Fakultas Ilmu
Sosial dan Ekonomi. Universitas Negeri Yogyakarta, Yogyakarta.
·
Dongen, C.J. Van. Tanpa Tahun, Orang Kubu (Suku Kubu), Arsip Museum
Provinsi Jambi, Jambi.
·
Manurung, Butet. 2007, Sokola Rimba, Insist Press, Yogyakarta.
·
Muchlas, Munawir. 1975, Sedikit Tentang Kehidupan Suku Anak Dalam (Orang
Kubu) di Provinsi Jambi, Kanwil Depsos Provinsi Jambi, Jambi.
·
Soetomo, Muntholib, 1995, Orang Rimbo : Kajian Struktural-Fungsional
Masyarakat Terasing Di Makekal Provinsi Jambi, Universitas Padjajaran, Bandung.
http://www.muratarakab.go.id/berita-20_mengenal-keunikan-sisi-kehidupan-suku-kubu-di-muratara.html



